Rabu, 02 Oktober 2013

Alat Musik Tradisional Korea

Janggu
Janggu ( janggo ) atau juga disebut seyogo  adalah gendang tradisional dari Korea. Janggu disebut juga gendang jam pasir karena bentuknya yang ramping dan menyerupai jam pasir. Janggu ditabuh menggunakan kedua buah tongkat kecil.

Gayageum
Gayageum adalah alat musik petik tradisional Korea Selatan yang berupa kecapi dengan 12 senar. Berdasarkan Babad Samsuk Sagi (1145) alat musik ini diciptakan oleh Raja ke-6 dari Kerajaan Gaya, yakni Raja Gasil. Gayageum kemudian disebarkan ke Kerajaan Silla dan masih dimainkan hingga kini. Gayageum telah mengalami banyak modifikasi sejak dahulu. Gayageum moderen adalah hasil modifikasi dari akhir zaman Dinasti Joseon di abad ke-19 dan seringkali dinamakan sanjo gayageum. Gayageum yang dimoderenkan mempunyai jumlah senar yang lebih banyak yakni 13, 17, 18, 21, 22, atau 25 buah senar yang terbuat dari nilon.



Haegeum
Haegeum adalah jenis alat musik gesek tradisional yang berasal dari Korea Selatan. Haegeum adalah jenis rebab yang diadaptasikan dari rebab Cina dan masih sejenis dengan erhu , xiqin , dan erxian.
Jenis haegeum yang bersenar 4 dinamakan sohaegeum  (소해금) adalah jenis haegeum yang sudah dimodifikasi.



 Ajaeng
Ajaeng adalah alat musik tradisional korea yang berupa kecapi besar, memiliki tujuh senar tebal yang terbuat dari sutera, disetel di atas badan kayu paoulonia. Senar dipasang di atas kayu penyangga. Ajaeng diletakkan di atas bangku kayu, dimainkan dengan cara digesek untuk menghasilkan suara yang rendah dan melankolis. Alat musik ini selalu digunakan dalam orkestra musik istana. Asal mula dari Cina, diperkenalkan pada periode Dinasti Goryeo (918-1392). Pada zaman moderen, permainan ajaeng dikembangkan oleh musisi Park Seong-ok (1908-1985) untuk mengiringi tari-tarian. Permainan secara solo dinamakan ajaeng sonjo dimana ajaeng yang digunakan lebih kecil (so-ajaeng atau sanjo ajaeng), hasil modifikasi ajaeng besar. Musisi-musisi terkenal pemain ajaeng adalah pencipta ajaeng sanjo, Han Il-seop (1929-1973) pada tahun 1960-an. Tokoh lainnya adalah Cheong Cheol-ho, Jangwol Jungseon, Seo Yong-sok, Park Jung-seon dan Kim Il-gu.
Daegeum
Daegeum adalah suling bambu besar dari Korea. Daegeum memiliki membran yang menghasilkan suara berat atau melankolis. Daegeum dimainkan dalam permainan musik istana dan musik rakyat, secara solo maupun orkestra.
Jenis suling yang sama namun lebih kecil adalah Junggeum dan sogeum. Tiga suling ini dikenal juga sebagai samjuk (tiga bambu). Samjuk bermula dari zaman kerajaan Silla.
Permainan solo daegeum yang disebut daegeum sonjo adalah warisan budaya nonbendawi Korea Selatan pada tahun 1971.


Geomungo
Geomungo atau hyeon-geum ("kecapi hitam") adalah sebuah kecapi tradisional dari Korea. Geomungo dimainkan sambil duduk. Senarnya dipetik menggunakan tongkat bambu kecil suldae dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan senar untuk menghasilkan nada. Tipe nada yang dimainkan untuk musik tradisional Korea adalah D#/Eb, G#/Ab, C, A#/Bb, A#/Bb, dan A#/Bb satu oktav lebih rendah daripada nada tengah. Geomungo dimainkan pada saat pementasan solo (sanjo) atau dengan alat musik lain. Suara nada yang dihasilkan Geomungo dianggap lebih "maskulin" dibanding alat musik petik gayageum yang dianggap lebih feminin; namun keduanya dimainkan baik oleh pria maupun wanita.

1 komentar:

Silahkan Beri Komentar Anda !